Terselubung

Informasi Unik dan Menarik

7 Film Indonesia yang Romantis di Era Tahun 2000-an

Film Tentang Cinta Romantis – Apa saja Film romantis di Indonesia yang hadir di tahun 2000-an. Berikut ulasan informasi 7 Film Romantis Indonesia Terbaik.
1. Eiffel… I’m In Love (2003, sutr. Nasri Cheppy)
Tangan dingin Nasri Cheppy, sutradara yang sukses dengan Catatan Si Boy di tahun 1980-an, lahir sebuah film bagi remaja era 2000-an. Sukses film ini mendatangkan 3 juta penonton membuktikan sutradara senior era sebelum kebangkitan film pasca 1998 pun masih bisa nyambung dengan penonton generasi 2000-an. Dari sini pada hakikatnya, fim tak mengenal dikotomi sutradara tua dan muda. Yang ada adalah film bagus dan film jelek. Bagi 3 juta penonton Eiffel… adalah film yang mampu membuat mereka terhibur, merasakan nuansa romantis di bioskop. Diangkat dari novel karya remaja 17 tahun, film ini menangkat hubungan benci tapi cinta antara Tita (Shandy Aulia) yang manja dengan Adit (Samuel Rizal) yang cuek. Tita semula sudah punya pacar. Begitu pun Adit. Tapi dari benci malah jatuh ke hati. Saat cinta bertemu, mereka malah harus berpisah. Momen-momen model begini yang mungkin bikin penonton gregetan dan pada akhirnya, menyukai film ini.          
2. Romeo & Juliet (2009, sutr. Andibachtiar Yusuf)
Sutradara Andibachtiar Yusuf meminjam lakon Shakespeare yang populer ke dalam kisah cinta 2 insan di tengah fanatisme pendukung tim sepakbola pujaan. Konflik keluarga Montague dan Capulet diganti pendukung Persib Bandung dan Persija Jakarta. Di antara The Jak, pendukung Persija, dan Viking, pendukung Persib, yang musuh bebuyutan terjalin cinta antara Rangga (Edo Borne) dengan Desi (Sissy Priscillia). Tentu cinta mereka tak direstui. Tapi, tentu pula, kekuatan cinta yang menang. Rangga-Desi akhirnya memutuskan untuk kawin lari ke kota lain. Situs filmindonesia.or.id  menyebut film ini sebuah kisah cinta yang mengikuti alur drama Romeo-Juliet yang terkenal itu, berniat juga untuk melawan kekerasan dalam persepakbolaan.
          
3. Ayat-ayat Cinta (2008, sutr. Hanung Bramantyo)
Ayat-ayat Cinta (AAC) menandai kebangkitan kembali sebuah sub-genre yang lama tak dibuat sineas kita: film Islam(i). Sebelumnya, film bertema islami, macam Rindu Kami PadaMu (2004) karya Garin Nugroho, hanya populer di pinggiran. Lewat AAC, dengan popularitasnya hingga 3,8 juta penonton, film islami masuk ke ranah mainstream. Mengapa film islami bisa demikian digemari? Pangkal soalnya bukan karena negeri kita berpenduduk Muslim terbesar. Melainkan pada sosok Fahri (Fedi Nuril), mahasiswa Indonesia di Kairo, Mesir, yang menemukan persoalan pelik memilih wanita yang akan dinikahinya. Cinta segitiga yang kemudian dijalaninya dengan Maria (Carissa Putri) dan Aisha (Rianti Cartwright) berhasil mengharu biru kita. Siapa yang tahan tidak menitikkan air mata saat Maria akhirnya ikhlas melepas Fahri.
4. Heart (2006, sutr. Hanny R. Saputra)


Sineasnya, Hanny R. Saputra menyebut filmnya menyajikan mood “keagungan cinta yang menggenang.” Maksudnya, tentang cinta yang tertahan lantaran tak bisa diekspresikan lebih bebas. Inti kisah Heart tentang cinta segitiga antara Farel (Irwansyah), Rachel (Nirina Zubir), dan  Luna (Acha Septriasa). Farel jatuh cinta pada Luna. Tapi, Luna, walau juga menyambut cinta itu, Rachel berusaha terus menghindar. Di saat bersamaan, Rachel yang selama ini bersahabat dengan Farel, ternyata juga jatuh cinta pada Farel. Rachel tak bisa mengungkapkan cinta pada sahabatnya. Sedang Luna merasa percuma jatuh cinta karena sebentar lagi ia dijemput maut digerogoti penyakitnya. Buat menceritakan mood cinta segitiga Farel, Luna, dan Rachel tersebut Hanny menyuguhkan gabar-gambar yang indah dipandang mata, pemandangan maupun tata artistik yang sering kita saksikan dalam komik-komik serial cantik. Ingat momen pacaran di danau atau berlari-lari di pegunungan? Tak dipungkiri, film ini berhasil menyajikan suasana romantis.
5. Hari Untuk Amanda (2010, Angga Dwimas Sasongko)

Anda mungkin pernah dengar, menjelang hari pernikahan cobaan berat biasanya datang. Film ini mengangkat mitos itu. Sepuluh hari jelang pernikahannya, Amanda (Fanny Fabriana) malah didekati mantan pacarnya, Hari (Oka Antara). Calon suami Amanda, Dody (Reza Rahadian) sibuk mengurusi pekerjaan kantornya. Alhasil, Amanda ditemani Hari mengantar undangan. Dalam perjalanan itu, keduanya menapaki lagi cinta yang dulu pernah dijalani. CLBK? Tentu. Tapi bukan itu inti film ini. Amanda sempat ragu apa mnikah adalah pilihan tepat baginya. Namun pada akhirnya ia tetap memilih. Cinta lama mungkin menggoda untuk dibangkitkan lagi, tapi apa cinta lama itu yang terbaik bagi kita? Amanda sudah menentukan pilihannya. Sebuah plihan yang menunjukkan kedewasaan diri.
6. LoVe (2008, Kabir Bhatia)
LoVe dibesut sutradara asal Malaysia, Kabir Bhatia. Isinya 5 cerita cinta yang tak saling berkaitan. Lima kisah dengan bintang terkenal. Ada Sophan Sophiaan, Widywati, Darius Sinathrya, Luna Maya, Surya Saputra, Wulan Guritno, Fauzi Baadila, Acha Septriasa, Irwansyah, dan Laudya Chintya Bella. Deretan pemain itu saja membuat filmnya menarik untuk dilirik. Belum lagi penggarapannya yang manis. Kabir berhasil merekam sudut kota Jakarta yang kita lihat sehari-hari (halte busway, gang sempit, kafe, hingga jalanan)  terasa romantis dan sedap dipandang. Jangan tanya kisahnya. Anda pasti akan ikut terhanyut dan terkenang terus. Seorang pria pikun yang dicinta seorang wanita; suami yang dikhianati lalu menemukan cintanya kembali; juga tentang cinta tanpa pamrih, tulus, dan kekal.     
7. Ada Apa dengan Cinta? (2002, sutr. Rudi Sudjarwo)


Tempo hari saya menonton lagi Ada Apa dengan Cinta? (2002) dalam rangka ultah 10 tahun film ini. Setelah 10 tahun, film ini masih membuat penontonnya terbetot pada pasang surut hubungan Rangga (Nicholas Saputra) dan Cinta (Dian Sastrowardoyo). Dari segi pengisahan, plotnya meminjam ramuan komedi romantis: dari benci ke cinta, terpisahkan, lalu karakternya sadar kalau ia tak bisa pindah ke lain hati dan pada klimaksnya mngjar cintanya hingga ke bandara. Film ini memang ditutup dengan perpisahan. Tapi sebuah puisi manis, serta senyum Cinta dan Rangga, memberi rasa puas pada penonton. 
Kita masih ingat bait puisinya.
Perempuan datang atas nama cinta
Bunda Pergi Karena Cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan 
Ada apa dengannya?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku lihat karya surga
Dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta?
Tapi aku pasti akan kembali dalam satu purnama
Untuk Mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya bukan untuk siapa
Tapi untukku… 
Karena aku ingin kamu
Itu saja…

.
Updated: Maret 15, 2015 — 03:27
Terselubung © 2015 Frontier Theme